Distribusi Pupuk

Distribusi Pupuk Bebas, tapi langka

40 TAHUN LEBIH TANAH NEGERI INI DICEKOKI PUPUK KIMIA, EH, SUDAH BEGITU, DISTRIBUSINYA CARUT MARUT, SERING DISELEWENGKAN, SEHINGGA PUPUK SERING LANGKA.

Jangan main-main dengan krisis pangan. Sebab orang, orang lapar, bisa nekat, bisa berbuat macam-macam, asalkan perutnya kenyang. Ujung-ujungnya apalagi kalau bukan keresahan sosial. Lalu apa hubungannya dengan Pupuk? Nah pada saat negeri ini berada pada cengkraman orderbaru, prestasinya pernah membanggakan, berhasil swasembada beras, 1984.

Sayang kebanggaan itu suburnya neger ini, tidak berlanjut lama. Faktanya sekarang negeri yang dikenal agraris ini, ternyata kedaulatan pangannya rapuh. Semua tergantung apada pasokan (impor) negeri lain. Ini bukan hanya berlaku bagi beras, juga komoditas lainnya seperti kedelai, terigu, gula dan jagung. Sejak awal swasembada beras, praktis Indonesia menjadi langganan impor beras khususnya dari Vietnam dan Thailand.

Pelbagai kalangan pun “berteriak” agar sektor pertanian dibenahi tuntas, dan paling penting saatnya “political will” berpihak kepada petani. Maklumlah selain faktor alam yang tidak bersahabat, sperti kemarau panjang, bencana, teknologi yang belum tepat guna, lokasi lahan yang belum meningkat, salah urus tentang pertanian menjadi pemicu jebloknya ketahanan pangan.

Ambil contoh soal distribusi pupuk yang sejak era reformasi diperdagangkan secara bebas, kerapkali diselewengkan oleh para oknum demi meraup keuntungan besar, entah ditimbun maupun diekspor. Akibatnya selain langka hargapun minta ampun mahal. Ironisnya kebutuhan pupuk kimia seperti Urea, SP36, KCL dan sebagainya tiap tahun tidak pernah surut. Kenaikan ini dipicu karena naiknya harga gas dan bahan baku yang sebagian besar impor. Toh begitu membengkaknya subsidi tidak meningkatkan volume pupuk subsidi, tetap 7.2juta ton pertahun.

Pupuk Organik
Pada hal dikatakan oleh Ketua Dewan Pakar Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan, Tatar Sunda Mubair Purwasasmita dalam meningkatkan kesejahteraan petani, tidak lain dengan meningkatkan kemandirian petani itu sendiri. Setidaknya, mereka didorong menggunakan benih padi nonhibrida, pupuk organik, dan pestisida organik bisa dibuat sendiri. Alasannya, selain mengurangi biaya tanam, juga akan memperbaiki kualitas tanah yang dalam jangka panjang akan menguntungkan petani.

Tanah yang selalu diberi pupuk kimia dan pestisida akan tandus serta membutuhkan biaya pengolahan yang terus naik, tutur Mubiar, dalam diskusi ketahanan pangan yang diselenggarakan harian Kompas. Lebih – lebih dalam pemasanan global saat ini “medan” petani makin berat saja.

“Jadi Pemanasan Global saat ini, berdampak pada sektor pangan, karena pertanian terganggu” jelas Ir. H. Cecep Suhendar, M.Si. Persoalannya, bagaimana meningkatkan produksi dalam masa normal dengan lahan yang terbatas” Tiens Golden Harvest bisa menjadi solusi.

Alasannya : pupuk ramah lingkungan ini mengandung mengandung bakteri yang dibutuhkan untuk penyuburan tanah secara alami, misalnya : Hormon tumbuh IAA (Indole Acetic Acid), Azospirillum sp, Azotobacter sp, Mikroba pelarut P, Lactobacillus sp, Mikroba pendegrasi selulosa. Mikroba tersebut merupakan mikroba indigenous, yaitu mikroba tanah setempat yang sangat berguna untuk penyubur tanah secara biologi. Selain itu terdapat beberapa unsur lain yang tidak kami tampilkan (Rahasia Perusahaan) terdapat dalam Tiens Golden Harvest sehingga menjadikan Golden Harvest ini memiliki keunggulan dari produk sejenis lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: